Jauh sebelum Kapasan dikenal sebagai kawasan Pecinan, tanah ini adalah hutan kapuk (randu) yang dibuka untuk permukiman pada abad ke-16 dan ke-17. Dari sinilah nama lingkungan ini berasal. Yang tumbuh di sini adalah kampung yang rapat dan organik, dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah sederhana dan tidak ditata dengan perencanaan kolonial, tetapi dibentuk oleh generasi keluarga yang hidup berdekatan. Pada awal 1900-an, kampung ini terkenal dengan warganya yang dijuluki "Buaya Kapasan", karena semangatnya yang garang dan sulit diatur, bahkan oleh patroli Belanda. Pada 1935, otoritas kolonial membangun kembali jalan dan saluran air di area seluas delapan hektare, untuk menggantikan "kondisi yang sangat tidak sehat". Infrastrukturnya berubah, tetapi keluarga dan karakter kampung tetap bertahan. Pada 1940-an, permukiman dengan gang-gang sempitnya itu melindungi komunitasnya melewati gejolak perang dan revolusi, serta turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan.
Arsip

1880 Chineesche kamp te Soerabaia.
Sumber: KITLV, 1880

1900 Chinese Kamp te Soerabaja.
Sumber: KITLV, 1900

1912 Konflik Komunitas
Pada 1912, warga menghadapi konflik dengan membawa perisai kayu berlapis logam buatan sendiri. Sumber: delpher.nl

1931 Wijkmeester (Kepala Lingkungan) yang Menggelapkan Uang
Kliping ini menegaskan bahwa Kapasan memiliki jabatan kepala komunitas yang ditunjuk secara resmi di bawah pemerintahan Belanda.
Sumber: delpher.nl

1935 Program Perbaikan Kampung
Pada 1935, otoritas kolonial membangun kembali jalan dan saluran air di Kapasan Lor seluas 8 hektare, menggantikan "kondisi yang sangat tidak sehat" dengan infrastruktur baru.
Sumber: delpher.nl