Klenteng Boen Bio kerap disebut sebagai benteng terakhir agama Konfusianisme di Surabaya. Klenteng ini bermula pada 1883 sebagai kuil bernama Boen Thjiang Soe di Jalan Kapasan 131. Kemegahannya membuat letaknya yang tersembunyi di dalam kampung terasa sia-sia, sehingga pembaru Tionghoa Kang You Wei, saat berkunjung pada 1903, menyarankan agar kuil dipindahkan ke tepi jalan raya. Mayor The Toan Ing kemudian menyumbangkan tanah di pinggir jalan seluas sekitar 500 meter persegi. Pemindahan itu dibiayai sebagian dari sumbangan dan sebagian dari uang denda yang dimenangkan para pedagang Tionghoa dalam perkara pengadilan melawan perusahaan dagang Belanda HVA. Kuil yang dibangun kembali selesai pada 1906 dan berganti nama menjadi Boen Bio, dengan nama para donatur diabadikan pada sebuah prasasti. Namanya mencerminkan tujuannya: Boen (Wen dalam bahasa Mandarin) berarti sastra atau budaya, dan Bio (Miao) berarti kuil, sehingga Boen Bio pada hakikatnya adalah "Kuil Sastra".
Arsip

1918 Chinese tempel Kapasan te Soerabaja.
Sumber: KITLV

1930 Perayaan Hari Lahir Konfusius
Setiap tahun pada hari lahir Konfusius, doa dan ceramah umum memenuhi kuil ini. Upacara ini, yang diselenggarakan oleh perkumpulan Tong Hiang Hwee, sudah menjadi tradisi yang mapan pada 1930.
Sumber: delpher.nl

1931 Hari Lahir Konfusius
Kuil yang saat itu dikenal sebagai Bunbio kembali memperingati hari lahir Konfusius pada 1931 dengan doa pagi dan ceramah malam tentang ajarannya, sebuah irama ibadah yang berulang setiap tahun.
Sumber: delpher.nl

1934 Peringatan Hari Lahir Konfusius
Sebuah upacara direncanakan pada hari itu di kuil Tionghoa di Kapasan, di bawah naungan perkumpulan pedagang Tionghoa setempat. Banyak perkumpulan Tionghoa setempat akan ikut serta, dan konsul Tiongkok akan menyampaikan pidato. Source: delpher.nl